Rabu, 08 Februari 2012

Miss Keju dan Film Lovers

            Malam ini takbir dikumandangkan. Pertanda bahwa esok hari yang suci. Kue lebaran siap disajikan. Baju baru dan muslimah siap dikenakan. Ketupat dan opor ayam, tak ketinggalan. Sholat tarawih dan kuis di TV saat sahur tak kan ditemui esok hari. Di dinding langit tampak bintang bintang yang menambah keceriaan malam ini. Tak seorang pun yang sedih, kecuali Dea.
            Hari ini Dea tidak puasa. Ia tergoda oleh kue keju buatan ibunya. Betapa tidak. Cake full keju bolo-bolo ala mama Dea itu 50% bahannya adalah keju. Tampak sepintas dari luar, bertabur parutan keju hampir menyelimuti seluruh goresan krim putih yang menempel pada roti. Dalamnya pun tak usah dibahas, sudahlah pasti rasa keju. Entah mengapa ia tidak ‘enek’ dengan makanan yang seperti itu. Tapi, mungkin itu pula yang menyebabkan wajahnya kini ditumbuhi sebuah jerawat (di hidungnya!). Si besar dan merah itu akan menjadi tontonan keluarga besarnya besok.
            Berbeda dengan Ravi. Si ‘film lovers’ itu tak peduli dengan kesibukan orang-orang rumah untuk esok. Motto hidupnya akan tetap sampai kapan pun “Tiada hari tanpa inspirasi visual”. Tapi anak Pak Hasan, guru Matematika kelas X di SMAN 21 itu, tidak pernah mendapat rapor merah. Hanya saja ia tak pernah mendapat juara. Hari ini ia telah menyelesaikan 3 film : 2012, the Core, dan Drive Angry.
            Takbir terus dikumandangkan sampai 1 Syawal 1430 H. Masjid An-Nur dekat rumah kedua bocah tersebut, pagi itu telah ramai hingga ke lapangan. Cerahnya sang surya menghiasi hari yang fitri. Seluruh umat muslim merayakan kemenangan dan kebebasan dari pertempuran segala hawa nafsu selama sebulan penuh. Masing-masing hamba Allah bersalaman dengan sesamanya, memohon ampunan atas salah dan dosa selama setahun.
            Adik Dea ‘Amanda’ berlari sana sini, mencicip ini itu, meminta angpau pada paman paman di ruang tamu Buyut Fitri. Nenek yang akrab disapa Mbah Prit oleh para cucunya, kini berusia 80 tahun. Beliau amat senang masih dikaruniai kesehatan untuk berlebaran bersama anak cucunya tahun ini. Beliau juga tersenyum melihat jerawat di hidung Dea yang merah masak bak apel di hypermaket. Merasa dilihati sang nenek, Dea mendekat dengan senyum yang lebar pada neneknya. Karena faktor usia (mungkin!), Mbah Prit dengan segera mencubit hidung Dea yang sedang berbuah. Tak sampai sepertiga puluh detik kemudian, ruangan itu pecah dengan suara tertawa (terutama si Manda). Sedangkan Dea? Jengkel, sangat!
            Berbeda dengan lebaran lebaran sebelumnya, hari ini Ravi tidak di rumah untuk menonton film. Ia (terpaksa) ikut menjamah rumah saudara saudaranya untuk bersilaturahmi dan saling mengampuni. Tapi memang sudah dasarnya jiwa jiwa perfilm-an, dia malah bercerita-ria tentang film yang ditontonnya kemarin tanpa henti. Lama kelamaan Pak Guru Matematika itu, menyeretnya pulang dan meminta maaf (lagi) pada anggota keluarga yang lain.
            28 Desember 2009, hari pertama Dea masuk sekolah setelah libur dua minggu berlebaran. Seperti biasa, Dea selalu diantar ayahnya setelah mengantarkan Amanda ke SDN Kerto Harjo. Hari itu dilaluinya dengan upacara dan halal bihallal. Tentu saja Dea senang, karena selain jerawatnya telah lenyap, Riri berulang tahun. Ia akan ditraktir dua mangkuk bakso keju Pak Syukur, belakang sekolah. Serta tak ketinggalan jus alpukat dengan susu coklat di atasnya (porsi jumbo!) di Jl. Maha Suara, dekat KFC. Dea memang ‘si Ratu makan’ tapi tidak ada tanda tanda pada dirinya yang menunjukkan suatu kegemukan (bisa saja memang faktor gen bawaan!)
            Berbeda dengan Ravi, dia memang tidak mau berangkat dengan ayahnya. Terang saja. Motor yang dibawa ayahnya setiap hari adalah vespa ’70.
“Motor ini mengantarkan saya mulai dari nol sampai sekarang,” ujar bapak ahli Trigonometri itu, “walaupun saya mampu membeli motor yang bagus, saya tidak akan merubah kecintaan saya pada motor ini.”
Tapi Ravi tetap saja tidak bisa menolak kalau kalau harus ke sekolah dengan ayahnya ‘Pangeran bervespa ‘70’
“Kapan aku dapat yang aku mau? Film gak boleh! Motor pun apalagi! Roni aja yang anak pak satpam di pabrik rokok Dji Ro Lue boleh bawa motor sendiri. Huft!” keluh Ravi dalam hati.
            Esok harinya, pagi pagi sekali Dea datang. Maklumlah … dia memang sangat suka duduk di bangku paling depan, apalgi kalau ada pelajaran Matematika. Walaupun ia harus membawa sarapannya ke sekolah. Ia lebih merelakan sarapaan nasi goreng dua porsinya menjadi satu di kotak bekal. Bersamaan dengan itu, motor Pak Hasan telah terparkir pojok sendiri, barisan awal yang selalu menjadi provokator motor motor guru yang lain. Ravi yang melihat Dea sedang sarapan di kelas X.8, iseng untuk menjahili murid kesayangan ayahnya itu.
“DOOORRR!!!”
Suara keras Ravi menggema di ruangan tanpa murid selain mereka berdua itu, mendarat di telinga Dea dan mengejutkan hati serta jiwanya.
“Uhuuk..Uhuuk..Uhuuk..”
Sedetik kemudian Dea batuk batuk kuwalahan, sedangkan Ravi berhehehe-ria.
“RAVIIIII !!!!”
***

 
            Sejak terjadi tragedi kejar-kejaran di Rabu pagi oleh faktor sarapan yang tertunda akibat dirinya, Ravi selalu terbayang-bayang wajah manis Dea. Tiap waktu ke waktu ia pun belajar menjadi pencuri, mulai dari mencuri pandang saat pelajaran berlangsung hingga belajar mencuri hati Dea. Tapi ia tidak mau berterus terang, mengingat pukulan tangan kanan Dea yang membekas di pundak kanannya. Dia pun mulai belajar menjadi orang gila selama tiga bulan, mulai dari senyum senyum sendiri hingga berjoget-ria saat Dea menyapanya di tempat Pak Syukur.
            Minggu, 6 Desember 2009, adalah hari paling membingungkan untuk seorang Ravi. Baru kali ini ia merasa jadi orang paling bingung sedunia.
“Gimana ya cara ngomong ke dia, Ron?” curhat Ravi pada Roni yang saat itu di rumahnya.
“Haha. Berat juga jadi secret admirer.”
Tiba-tiba …
“AHAAA!!!” teriak Ravi membingungkan.
“Wetsehh! Santai aja boss, gak usah heboh kayak gitu. Mang ada apa?”
“Gue dapet ide, men.”
“Hallah … paling-paling ajak ke bioskop.”
“Udah … diem aja. Yang penting gue butuh bantuan loe!”
            Esok paginya Ravi mulai melancarkan aksinya. Ia menyuruh Roni menaruh sepucuk surat beramplop hijau, warna favorit Dea di bangku tempat Dea biasa duduk. Lima belas menit kemudian, Dea datang dan menempati bangku paling depan. Ravi yang tahu Dea datang, mengamatinya dari bangku paling belakang. Dibukanya surat itu oleh Dea, begini bunyinya:
Haii …
“Yahh .. gini doank diamplopin. Jualan amplop, buk?” pikir Dea dalam hati.
            Ravi terus menghujani Dea dengan surat-surat yang isinya hanya sebuah kata. Dea yang heran, akhirnya mengumpulkan surat-surat itu dan merangkainya, hingga berbunyi:
Haii …
Aku mulai terkesan padamu sejak tanda tanganmu melekat dalam tubuhku.
“Mungkin surat-surat ini untukmu, Ri” kata Dea pada Riri, “kan kamu juga suka warna ijo. Lagian disini gak ditulis surat untuk siapa. Tapi aku yakin ini punya kamu.”
“Kok kamu seyakin itu?”
“Ya soalnya aku gak pernah tanda tangan di badan orang.”
“Loe pikir gue pernah? Haha … ada ada aja tuh anak. Ke kantin aja yukk!”
“Oke deh. Cacing cacing di perutku juga udah mulai melilit kayaknya.”
Keduanya tertawa bersama. Sedangkan Ravi yang dari tadi menguping pembicaraan mereka?
“!!!???!!@##$”
***

Surat surat itu untukmu Dea …
Ku tunggu kamu selepas Asar di tempat pertama kamu nyapa aku setelah peristiwa tanda tangan itu …
“R”
“Hah ?? aku ?? R ?? Riri ?? Rahmi ?? Roni ?? ahh gak mungkin.
Atau jangan jangan Ravi ?? hihi” ujar Dea dalam hati.
            Pukul 15.20, Dea mulai mencari. Dia memang sengaja datang terlambat agar dia tidak menunggu. Mula mula ia mencari di kelas X.8, karena di situ ia banyak menggoreskan tinta untuk tanda tangan (dalam arti sebenarnya!). Tapi tak ada seorang pun ditemuinya, hanya detak jantung jam dinding yang ia dengar.
            Ia menuju tempat parkir. Bukan karena ia pernah tanda tangan di sana tapi ia ingin memastikan motor siapa yang masih di sana. Ternyata motor Pak Hasan-lah yang masih tinggal di sana. Terang saja. Guru itu memang pernah juara I guru teladan sekecamatan. Dea semakin bingung dan pasrah. Rasa lapar tak dapat lagi ditahannya. Ia pun menuju ke warung bakso Pak Syukur yang 100% halal.
            Saat menjejaki warung itu, tampak oleh Dea seorang pria seusianya tertidur. Disamping pria itu ada dua mangkuk bakso lengkap dengan saus, kecap, dan sambalnya. Di depan pria berkaus putih itu, terdapat sebuah kresek hitam yang entah apa isinya. Tapi yang paling mengejutkan adalah di atas tas kresek itu ada sebuah amlop hijau yang sangat dikenali Dea.
“Amplop itu …” pikir Dea
“Permisi!” ujar Dea perlahan mendekati pria itu.
Dan si pria terbangun dari tidurnya..
“RAVI ??” tanya Dea kaget.
“Dea! Kamu lama banget! Ditungguin dari tadi baru nongol.”
“Kamu ?” Dea masih bingung.
“Iya aku tahu seleramu. Pak Syukur yang ngasih tahu. Kamu sih kelamaan. Udah dingin kan tuh bakso. Cepet gih dimakan. Tapi karena kamu telat, yang satu buat aku!”
“Jadi kamu yang nulis surat buat aku?”
“Ya aku yang  nulis. Nih masih ada satu surat lagi yang belum kamu baca.”
Dea pun membuka amplop itu ..
            Aku gak habis pikir kalo kamu ngartiin tanda tangan dalam maksud yang sebenarnya. Maksudnya itu bekas pukulan tangan kamu waktu pagi pagi itu. Suer! Sakit tauk!
Diliriknya Ravi yang sedang tersenyum sejenak kemudian membaca surat untuknya kembali.
            Tapi gak apa apa. Sejak saat itu aku jadi suka sama kamu. Jujur aja aku gak pernah nembak cewek. Jadi aku bingung cara ngomongnya. Ya… aku harap kamu maklum..
“Ravi”
“Ini ada satu lagi,” kata Ravi sembari memberikan bungkusan di kresek hitam.
“Apa ini?”
“Lihatlah! Dan itu untukmu.”
Dibukalah bungkusan itu. Seketika raut wajah Dea berubah.
“Kamu suka?” tanya Ravi.
“Sangat suka. Aku memang tidak akan pernah mengubah seleraku. Bolu rasa keju dengan goresan krim putih disekelilingnya, dan ditaburi parutan keju. Mmmmm … yummy!” kata Dea dengan senyum lebarnya, “makasih Ravi …”
Keduanya berpandangan lama, hingga sebuah suara mengagetkan mereka..
“Warung bakso keju terpal biru waktunya tutup saudara-saudara. Sudah jam lima sore.”
Upps .. ternyata itu suara pak gendut penjual bakso. Kemudian keduanya bergegas.
“Makasih, Pak Syukur,” kata Ravi sembari meninggalkan tempat itu.

“Ravi, besok ada acara?” tanya Dea tiba-tiba
“Insya Allah tidak ada ‘miss keju’, ada apa?”
“Nonton Tokyo Car bareng aku yukk … :-)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar